Topang Kebutuhan Pangan, Bupati Konawe Lepas 1000 Ton Beras ke Sulawesi Utara

  • Bagikan
Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa sebelum melepas beras produksi petani Konawe ke Sulawesi Utara.

UNAAHA – Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali memantapkan diri sebagai daerah lumbung beras. Selain menjadi penopang kebutuhan beras untuk wilayah Bumi Anoa, ekspansi pengiriman beras Konawe juga sudah merambah keluar provinsi.

Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa melepas secara simbolis 1000 ton beras yang akan dikirim ke Bitung Sulawesi Utara (Sulut). Seremoni pelepasan berlangsung di Depot Logistik (Dolog) Bulog Konawe, Senin (24/5/2021). Acara tersebut dihadiri Kepala Bulog Konawe, Yusran Yunus serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemda Konawe.

Pada kesempatan itu, Yusran Yunus melaporkan, beras yang dikirim ke Sulut tersebut merupakan beras pengadaan 2021 hasil panen petani Konawe. Menurutnya, tidak sulit bagi Konawe untuk mendapatkan beras. Selama 24 hari kerja pada bulan April, petani Konawe bahkan sudah mampu menghasilkan 4.750 ton beras.

“Per hari antrian truk masuk itu bisa sampai 30 yang membawa beras hasil panen petani,” ujarnya.

Banyaknya produksi beras di Konawe lanjut Yusran, membuatnya perlu mengusul agar pihaknya bisa mengirim beras keluar provinsi. Hal itu pun disetujui dan pihaknya langsung mengirim beras ke daerah defisit, seperti Sulut, terkhusus daerah Bitung.

“Pengiriman 1000 ton beras ke Sulut ini tentu tidak lepas dari dukungan dari Pemda Konawe yang terus menggenjot produksi beras di tingkat petani,” jelasnya.

Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa berbincang bersama Kepala Bulog Unaaha sebelum melepas beras produksi petani Konawe ke Sulawesi Utara.

Yusran juga berterimakasih kepada Bupati Konawe karena telah membuka keran pendistribusian beras Bulog ke lini lainnya. Misalnya, program tunjangan aparatur sipil negara, pendistribusian ke perusahaan sawit dan industri smelter di Morosi.

“Kalau pendistribusiannya beras dari Bulog lancar, maka penyerapan beras ke petani juga akan lancar. Ini akan sangat menguntungkan petani kita,” terangnya.

Yusran menjelaskan, proses pendistribusian beras ke sulut menggunakan 40 truk. Masing-masing truk memuat 25 ton. Pengiriman via jalur laut bakal memakan waktu hingga tiga pekan ke depannya, karena kapal akan transit dahulu ke Surabaya.

“Mohon doanya, semoga berasnya lancar sampai ke tempat tujuan. Semoga beras ini juga bisa membawa kesan yang baik di Sulut, sehingga nama Konawe bisa lebih kenal lagi,” tutupnya.

Sementara itu Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa dalam sambutannya menuturkan, hingga saat ini dirinya masih berupaya agar pendistribusian beras dari Bulog bisa lebih ditingkatkan lagi. Menurutnya, jika pendistribusian lancar maka penyerapan beras dari petani oleh Bulog juga bisa meningkat.

Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa berbincang bersama Kepala Bulog Unaaha dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan sebelum melepas beras produksi petani Konawe ke Sulawesi Utara.

“Kalau pendistribusian tinggi, maka Bulog akan menyerap lagi. Kalau serapan makin tinggi maka petani kita akan diuntungkan, karena pembelian gabah oleh Bulog itu senilai Rp4.200 per kilogram. Kalau pun ada pembelian di bawahnya, itu permainan tengkulak. Ini yang akan kita putus mata rantainya,” jelasnya.

Bupati dua periode itu menerangkan, dalam waktu dekat dirinya akan mengeluarkan Perbup terkait tunjangan beras ASN yang harus dibeli dari Bulog. Selain itu, Kery juga menyatakan bahwa beras Bulog juga akan menyasar perusahaan sawit dan juga industri smelter, seperti VDNI dan OSS.

“Untuk VDNI tadi saya sudah telepon, mereka juga siap menyerap beras Bulog kualitas premium. Dalam waktu dekat juga saya akan ke Jakarta membicarakan ini dengan manajamen VDNI, serta Bulog pusat,” terangnya.

Kery berjanji, pihaknya akan berupaya agar pembelian gabah petani bisa mencapai harga di atas Rp5.000. Menurutnya, jika pembelian dilakukan dengan harga segitu, maka petani Konawe akan sejahtera.

“Saya malah berpikir, kalau kita ini banyak melakukan pengadaan alsintan untuk pertanian. Padahal, kalau anggaran itu dialihkan untuk membeli gabah petani dengan harga maksimal, saya rasa petani kita akan sangat terbantukan,” pungkasnya. (Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *