Presiden Ungkap Smelter PT. VDNI dan GNI Wujud Investasi Masa Depan Indonesia

  • Bagikan
Ketgam: Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo dalam kunjungan kerja (Kunker), di Sulawesi Tenggara (Sultra).Foto: Istimewa

KABARANOA. ID: KONAWE – Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe menjadi salah satu titik tujuan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo dalam kunjungan kerja (Kunker), di Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin hingga Selasa (27-28/12/2021).

Morosi terkenal sebagai daerah investasi, ditandai dengan keberadaan pengolahan nikel milik salah satu perusahaan raksasa asal China, PT. Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI).

Joko Widodo saat menyambangi Morosi pada Senin sore, meresmikan smelter milik PT. VDNI dan GNI yang berada di Morowali Utara (Morut).

Keberadaan pabrik pengolahan nikel ini, menurut Jokowi sapaan akrab Presiden RI, menjadi investasi masa depan Indonesia dalam mendorong perekonomian negara secara umum, termasuk Sultra dan Konawe khususnya.

“Hari ini kita melihat segera akan kita resmikan smelter yang menghasilkan feronikel dengan kapasitas produksi 1.800.000 ton per tahun. Bayangkan kalau kita hanya mengekspornya dalam bentuk bahan mentah,” ungkap Jokowi dikutip dari akun Youtube Sekretariat Presiden.

Ketgam: Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo dalam kunjungan kerja (Kunker), di Sulawesi Tenggara (Sultra).Foto: Istimewa

Menurutnya, dari biji nikel yang diolah menjadi feronikel, nilai tambahnya meningkat 14 kali lipat dibandingkan keuntungan jika hanya diekspor ke luar negeri. Lalu jika diolah menjadi billet stainless steel akan meningkat nilainya 19 kali lipat. Sebuah nilai yang tidak sedikit.

Dari industri seperti ini kata Jokowi, jelas negara akan mendapatkan pajak serta mendapatkan devisa yang tidak sedikit. Tak hanya itu, lapangan pekerjaan juga terbuka lebar. Biasanya tenaga kerja berasal dari negara yang dikirimi bahan mentah, sekarang tenaga kerja muncul di sekitaran area perusahaan.

“Saya tadi tanya ke pak Dirut, ada berapa tenaga kerja yang direkrut di sini maupun di Morowali? dijawab sebanyak 27 ribu. Sebuah jumlah yang tidak sedikit, 27 ribu itu. Sehingga ini akan muncul 27 ribu, 30 ribu, 40 ribu. Rekrutmen seperti ini yang kita inginkan,” terangnya.

Pemerintah juga telah mengambil ketegasan memberhentikan ekspor nikel. Tahun depan, hal serupa juga bakal diberlakukan untuk bahan mentah bauksit, serta Minerba lainnya.

Ketgam: Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo dalam kunjungan kerja (Kunker), di Sulawesi Tenggara (Sultra).Foto: Istimewa

Dampak dari ketegasan pemerintah ini yakni berkembang pesatnya industri dalam negeri. Hilirisasi juga maju sangat cepat, karena tidak ada pilihan lain bagi investor luar negeri, selain membangun pabrik di Indonesia.

“Artinya mau tidak mau harus mendirikan industri di tanah air, sehingga kita tidak ekspor lagi yang namanya bahan mentah yang sudah berpuluh-puluh tahun kita lakukan tanpa memberikan nilai tambah yang besar kepada negara,” tambahnya.

Olehnya, ia mengajak kepada seluruh elemen pejabat, mulai dari kepolisian dari tingkat pusat hingga daerah, juga kepada Gubernur Sultra, Ali Mazi dan Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa, menjaga iklim investasi di Morosi agar selalu terjaga.

“Berikan rasa aman kepada investor untuk menjalankan aktivitas usahanya, sehingga bisa meningkatkan nilai investasi di masa-masa yang akan datang,” tutup Presiden RI.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *